Teknologi memberikan banyak manfaat, seperti Sky Bet yang memanfaatkannya untuk Leeds sudah lebih dari 15 tahun lalu, bagaimana perusahaan ini merevolusi tekno di sana?
Pesatnya perkembangan teknologi memberikan beragam manfaat, seperti beberapa langkah yang diambil oleh Sky Bet di Leads selama 15 tahun lebih. Fondasi kuat yang telah dibangun selama belasan tahun ini terus mengalami perkembangan dan menciptakan sebuah warisan untuk memperkuat tim besar di dalamnya seperti Evoke, Flutter, dan Fanatics.
Awal Perjalanan Sky Bet di Leeds
Catatan perjalanan dimulai pada tahun 2010, ketika itu Sky Betting and Gaming (Sky Bet / SBG) resmi memindahkan kantor pusatnya di ruang kecil di Harrogate ke pusat kota Leeds yang sedang mengalami perkembangan.
Keputusan pemindahan kantor pusat ini dikarenakan adanya perselisihan dengan pemilik operator, namun di sisi lain membuka kesempatan untuk terhubung dengan komunitas teknologi yang telah tumbuh di Yorkshire.
“Kami resmi pindah ke Leeds sekitar tahun 2010, dan saya anggap itu merupakan keputusan tepat dan tidak perlu diragukan lagi. Saya berusaha agar lokasi kantor kami jaraknya tidak lebih dari 10 menit dari stasiun kereta agar memudahkan anggota tim bepergian, hingga akhirnya kami menetap di Wellington Place.” ujar Andy Burton, mantan CTO Sky Bet.
Ia juga sempat mengenang percakapannya dengan Richard Flint selaku CEO SBG mengenai pentingnya pembangunan platform internal. Saat itu back-end dan front-end SBG masih ditangani oleh pihak luar perusahaan OpenBet. Namun Burton meyakini sejak awal memang ada kendali penuh terkait produk, setidaknya di front-end anda perlu berada di pihak SBG.
Terbentuknya Tim Teknologi
Ketika itu Sky Bet belum punya developer internal, jadi tim teknologi lebih memfokuskan diri ke infrastruktur dan manajemen layanan. Semua pengembangan pun dialihdayakan, Burton mengatasi hal tersebut dengan memanfaatkan jaringannya ketika ia bekerja di Orange tahun 2004 hingga 2008 dan merekrut beberapa teknologi, arsitek andal, dan insinyur.
“Kami mulai perjalanan ini dengan beberapa orang, jadi skalanya memang benar-benar kecil. Kami menyebut mereka sebagai ‘pemilik bisnis’ dibandingkan ‘pemilik produk. Kami bukan mencari orang dengan latar belakang game taruhan, karena kami meyakini bahwa orang pintar akan lebih cepat bekerja sama dan belajar langsung dengan tim operasional.”
“Langkah awal lebih difokuskan ke pengembangan platform internal untuk Super 6, game yang diprediksi secara cuma-cuma kala itu begitu unik di pasaran. Hasil kolaborasi Sky Sports menjadikan Super 6 begitu populer bahkan jadi salah satu mesin penggerak kesuksesan Sky Bet.”
“Dari sana, Sky Bet selanjutnya mulai memindahkan produk inti seperti Sky Vegas dan sportsbook ke platform internal, menjadikannya operator pertama yang menguasai front-end produk” tambahnya.
Budaya Teknologi ala Spotify
Conor Grant yang bergabung dan menjabat sebagai Head of Sportsbook Product Management pada 2010 punya peranan penting. “Kami tidak melihat diri kami sebagai perusahaan taruhan, namun perusahaan teknologi” katanya.
Adanya pendekatan tersebut memang sangat menarik banyak talenta di Inggris Utara, ditambah dengan budaya kerja yang meniru model tribes ala Spotify. Hadirnya sistem tersebut memungkinkan tim lintas fungsi bekerja dengan baik, lebih gesit, dan memaksimalkan produk pemasaran. Di tahun 2020 saja Sky Bet mencatat perilisan sebanyak 30.000.
Faktor pendukung lain yaitu investasi besar, pada tahun 2014 CVC Capital Partners mengakuisisi SBG senilai £800 juta. Ini memperkuat pengembangan back-end dan produk. Burton menilai keunggulan dari kesinambungan Sky Bet bukan hanya tentang pertumbuhan yang cepat, namun mampu beradaptasi di bidang penting dan komitmen pada taruhan yang bertanggung jawab.
Dari Sky Bet ke Model Global
Ketika dijual ke Stars Group, tim teknologi Sky Bet telah berkembang menjadi 800 orang dalam kurun waktu 9 tahun. Kesuksesan tersebut menjadikan SBG menjadi role model global.
Pada saat Amerika Serikat melegalkan taruhan olahraga online di 2018 lalu, banyak eksekutif menyebut “Model Sky Bet” sebagai acuan, apalagi kolaborasi dengan Sky Sports. Namun usaha dalam meniru layaknya dilakukan Fox Bet dan Barstool Sports gagal menembus market dengan cara serupa.
Di Inggris saja pendekatan teknis seperti Sky Bet masih jadi faktor utama atas mendominasinya. Walau demikian, setelah migrasi ke platform pusat Flutter Edge, banyak teknologi yang berperan di Leeds jadi terpangkas.
Leeds jadi Pusat Talenta
Tapi, di balik pengurangan tersebut ada peluang baru yang terbuka. Terdapat beberapa mantan teknolog Flutter saat ini bergabung dengan operator lain, termasuk yang dipimpin oleh Conor Grant seperti Fanatics Betting & Gaming (FBG).
Sky Bet tetap beroperasi secara remote di beberapa waktu, namun tetap menjaga fungsi inti di Leeds. Mulai dari perdagangan, kasino, hingga operasi teknis. Grand menambahkan Leeds punya ekosistem talenta yang begitu unik sehingga orang-orang terbiasa dengan bekerja di lingkungan menantang dan serba cepat.

Tinggalkan Balasan